Alternatif Alat Tangkap Ramah Lingkungan

Saat ini pemerintah tengah mengupayakan perbaikan perairan Indonesia dengan cara mengganti alat bantu perikanan. Beberapa alat tangkap ikan dianggap tidak sesuai dengan standar yang ada. Oleh sebab itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyiapkan beberapa jenis alat tangkap alternatif bagi nelayan. Alat-alat ini diharapkan dapat memberi keuntungan baik bagi nelayan maupun keseimbangan sumber daya laut.

Ragam Alternatif Bagi Nelayan

Salah satu alat yang dicoba untuk diganti ialah cantrang atau trawls. Pemerintah menyediakan jenis jaring serupa yang lebih aman bagi lingkungan yang dikenal dengan istilah Gillnet. Gillnet atau jaring insang bekerja nyaris sama dengan cantrang tetapi tidak menyapu bersih isi perairan. Selain itu, juga disiapkan 8 jenis alat tangkap ramah lingkungan lainnya. Diantara seluruh alat itu terdapat kurang lebih 89 spesifikasi.

Alat bantu perikanan tersebut antara lain gillnet atau jaring insang, trammel net atau jaring tiga lapis, pancing tonda dan pancing ulur. Selain itu, alat tradisional seperti bubu lipat dan bubu rajungan juga dapat digunakan. Nelayan juga bisa menggunakan rawai dasar, rawai hanyut serta pole and line atau huhate. Semua alat tangkap itu dapat disesuaikan dengan target tangkap nelayan.

Cara Kerja Jaring Insang

Pemerintah tidak dengan serta merta mewajibkan seluruh nelayan untuk mengganti jenis jaring yang digunakan. Sebab harga Gillnet bisa mencapai berkali-kali lipat lebih mahal daripada cantrang. Namun, hasil yang diperoleh pun sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Oleh sebab itu, pemerintah melakukan beberapa langkah pendekatan.

Pemerintah memberi waktu kepada nelayan selama kurang lebih 6 bulan. Dalam kurun waktu tersebut diharapkan nelayan telah mengganti alat tangkapnya dengan alat yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah juga memberikan bantuan bagi nelayan. Bantuan yang diberikan sumbangan alat bantu dan pinjaman perbankan.

Selain itu, pemerintah tengah mencoba mensosialisasikan penggunaan Gillnet pada para nelayan. Sebagian besar nelayan menolak karena mereka belum mengetahui sistem kerja jaringan insang ini. dengan sosialisasi diharapkan nelayan dapat memahami keuntungan yang akan diperoleh. Yang terpenting nelayan mengerti bagaimana cara penggunaan alat bantu perikanan ini.