Dampak Pembangunan PLTA di Tapanuli Selatan

Pembangunan Proyek PLTA Tapanuli Selatan tepatnya di daerah Batang Toru bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Sumatera Utara. PLTA ini dibangun dengan memanfaatkan lahan hutan dan aliran Sungai Batang Toru. Walaupun memiliki tujuan baik, pembangunan PLTA ini juga membawa dampak buruk yang dapat merusak lingkungan di sekitarnya.  Setidaknya terdapat tiga kecamatan yang kemungkinan akan menerima dampak buruk akibat pembangunan PLTA ini. Tiga kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Sipirok, Kecamatan Merancar dan Kecamatan Batang Toru.

Kekhawatiran Masyarakat akan Kerusakan Akibat Pembangunan PLTA Batangtoru

Dampak negatif yang muncul akibat pembangunan PLTA ini terbagi menjadi dua macam yaitu ancaman bencana dan ancaman kerusakan habitat satwa di Hutan Batangtoru.

Ancaman Bencana bagi Lingkungan Alam Sekitar PLTA

Pembangunan Proyek PLTA Tapanuli Selatan ini dapat menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ancaman bencana yang akan terjadi. Bencana tersebut dapat terjadi di daerah yang berada di hilir dan hulu Sungai Batangtoru sendiri. Lokasi pembangunan terletak di daerah lempengan gempa sesar Toru, yakni patahan lempengan yang memiliki potensi gempa bumi.

Ancaman bencana yang dapat diterima oleh masyarakat yang berada di hilir sungai yaitu bencana banjir dan kekeringan. Hal tersebut dapat mengancam mata pencaharian masyarakat di daerah tersebut. Pasalnya masih banyak masyarakat di daerah ini yang menggantungkan hidupnya pada aliran Sungai Batangtoru untuk mengairi perkebunan dan pertanian yang mereka miliki.

Kerusakan Habitat Satwa Liar di Hutan Batangtoru

Pembangunan Proyek PLTA Tapanuli Selatan ini mendapat seruan negatif dari WALHI SUMUT (Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Utara). Mereka menilai bahwa pembangunan PLTA ini hanya akan membawa dampak buruk kepada masyarakat. Selain bencana, kekhawatiran dampak buruk pembangunan PLTA ini juga karena daerah ini merupakan daerah yang konservatif. Hutan Batangtoru merupakan habitat asli orang utan Sumatera. Pembangunan PLTA ini dapat mengancam kelangsungan hidup orang utan yang tinggal di hutan tersebut. Padahal, orang utan merupakan salah satu satwa yang dilindungi yang keberadaannya hampir punah saat ini.